Selasa, 20 November 2012

8 Fakta Mengapa Wanita Suka Bergosip

1. Bergosip mengurangi stress
Gosip membantu untuk mengurangi tingkat stress wanita karena bagi wanita berbicara dengan orang lain adalah sesuatu yang fun layaknya seperti pria yang suka bermain games.
2. Bergosip merupakan cara mereka untuk mencari teman
Gosip membuat wanita mudah akrab dengan temannya. Ketika mereka tidak memiliki topik untuk dibicarakan, maka pilihan mereka akan jatuh pada gosip. Pembicaraan mengenai orang lain tidak akan pernah habis sehingga gosip akan membantu pembicaraan untuk terus mengalir.
3. Bergosip merupakan guilty pleasure
Wanita tahu bahwa membicarakan keburukan orang lain merupakan hal yang tidak benar. Namun mereka tetap melakukannya karena bergosip memiliki sensasi yang disebut perasaan bersalah yang menyenangkan (guilty pleasure). Seperti kita makan fast food saat kita tahu bahwa kita sedang diet.
4. Dengan bergosip wanita ingin membuat sebuah ikatan
Ketika wanita menceritakan suatu rahasia, maka ia percaya terhadap orang itu dan berharap temannya itu tidak menceritakannya pada orang lain. Ia baru saja membuat ikatan yang berlandaskan atas rasa percaya.
5. Bergosip untuk mencurahkan perasaannya
Dengan bergosip, wanita mencurahkan segala sesuatunya kepada temannya. Jika wanita sedang iri, marah, bingung maka ia sering mencurahkan perasaan kepada temannya lewat gosip.
6. Bergosip membuat wanita merasa lebih superior
Wanita yang bergosip dengan membicarakan keburukan orang lain adalah wanita yang ingin merasa lebih superior dan lebih hebat daripada orang yang dijadikan bahan gosip itu.
7. Bergosip untuk mencari kebenaran
Ketika wanita bingung atau curiga terhadap seseorang, maka ia akan bercerita terhadap teman-temannya untuk menanyakan pendapat mereka. “Aku merasa pacarku sedang dekat dengan wanita lain, apakah ia selingkuh?"
8. Wanita berbicara lebih banyak daripada pria
Menurut penelitian, wanita 3x lebih banyak berbicara daripada pria. Maka, mereka juga akan bergosip lebih banyak daripada pria

Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlas

Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlas

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi (Allah) yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya surah al-Ikhlas sebanding (dengan) sepertiga al-Qur’an”[1].
Hadits yang agung ini menunjukkan tingginya kedudukan surah al-Ikhlas dan besarnya keutamaan orang yang membacanya, karena surah ini mengandung nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, sehingga orang yang membaca dan menghayatinya dengan seksama berarti dia telah mengagungkan dan memuliakan Allah ‘Azza wa Jalla[2]. Oleh karena itu, dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendengar berita tentang seorang shahabat radhiallahu ‘anhu yang senang membaca surah ini karena sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla yang dikandungnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah kepadanya bahwa Allah mencintainya”[3].
Beberapa faidah penting yang dapat kita ambil dari hadits ini:
- Surah ini dinamakan surah al-Ikhlas karena mengandung tauhid (pengkhususan ibadah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala semata-semata), sehingga orang yang membaca dan merenungkannya berarti telah mengikhlaskan agamanya untuk Allah Tabaraka wa Ta’ala semata. Atau karena Allah ‘Azza wa Jalla mengikhlaskan (mengkhususkan) surah ini bagi dari-Nya (hanya berisi nama-nama dan sifat-sifat-Nya) tanpa ada penjelasan lainnya[4].
- Surah al-Ikhlas sebanding (dengan) sepertiga al-Qur’an  karena pembahasan/kandungan al-Qur’an terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: tauhid, hukum-hukum syariat Islam dan berita tentang makhluk, sedangkan surah al-Ikhlas berisi pembahasan tauhid[5].
- Makna sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “…sebanding (dengan) sepertiga al-Qur’an” adalah dalam hal ganjaran pahala, dan bukan berarti membacanya tiga kali cukup sebagai pengganti mambaca al-Qur’an[6].
- Hadits ini adalah salah satu dalil yang menunjukkan bahwa al-Qur-an berbeda-beda keutamaannya (satu ayat dengan ayat yang lain dan satu surah dengan surah lainnya), jika ditinjau dari segi isi dan kandungannya[7].
Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata: “Pembahasan masalah ini harus diperinci dengan penjelasan berikut: jika ditinjau dari (segi) zat yang mengucapkan/berfirman (dengan al-Qur-an) maka al-Qur-an tidak berbeda-beda keutamaannya, karena zat yang mengucapkannya adalah satu, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun jika ditinjau dari (segi) kandungan dan pembahasannya maka al-Qur-an berbeda-beda keutamaannya (satu ayat dengan ayat yang lain). Surat al-Ikhlash yang berisi pujian bagi Allah ‘Azza wa Jalla karena mengandung (penyebutan) nama-nama dan sifat-sifat Allah (tentu) tidak sama dari segi kandungannya dengan surat al-Masad (al-Lahab) yang berisi penjelasan (tentang) keadaan Abu Lahab.
Demikian pula al-Qur-an berbeda-beda keutamaannya (satu ayat dengan ayat yang lain) dari segi pengaruhnya (terhadap hati manusia) dan kekuatan/ketinggian uslub (gaya bahasanya). Karena kita dapati di antara ayat-ayat al-Qur-an ada yang pendek tetapi berisi nasehat dan berpengaruh besar bagi hati manusia, sementara kita dapati ayat lain yang jauh lebih panjang, akan tetapi tidak berisi kandungan seperti ayat tadi”[8].
Kota Kendari, 29 Rabi’ul awal 1432 H

Fakta Tentang Warna Biru

1. Sebuah pembelajaran membuktikan bahwa seorang pengangkat beban dapat mengangkat beban yang berat lebih baik dalam gymnasium yang berwarna biru .

2. Dalam kebudayaan Roma dahulu, warna biru digunakan oleh pihak yang dipekerjakan sebagai pelayan masyarakat atau pihak berwajib. Itulah mengapa kebanyakan polisi diberbagai belahan dunia khususnya di Amerika Serikat identik dengan warna biru. Ini merupakan ciri dari filosofi kebudayaan Roma.

3. Dalam sebuah pabrik, rata ratra biru melambangkan peralatan yang sedang diperbaiki.

4. Biru juga melambangkan sistem surat menyurat yang menggunakan udara (air mail) dan Angkatan Laut (Navy).

5. Sebuah survey membuktikan bahwa biru adalah produk warna sweeter wanita yang paling laris diperjual belikan. Karena, kebanyakan wanita berfikir para lelaki menyukainya.

6. Warna yang paling banyak disukai oleh laki laki.

7. Dalam kepercayaan tertentu biru melambangkan kemurahan surga. (akan dibahas lebih lanjut).

8. Di India biru dipercayai membawa nasib yang buruk.




9. Di dalam kebudayaan tradisional China Biru melambangkan rasa sakit.

10. Biru adalah warna utama, dari 3 warna utama (merah hijau biru).

11. 8 % dari penduduk di seluruh dunia memiliki warna mata biru.

12. Di UK biru menjadi lambang warna dari waspada penyakit kanker testis.

13. Di US kotak surat kantor pos umumnya berwarna biru

14. Biru adalah warna umum dari sikat gigi di berbagai dunia.

15. Nyamuk lebih tertarik untuk mendatangi warna biru dibandingkan dengan warna yang lainnya.

16. Blue Bird tidak bisa melihat warna biru.

17. Burung Hantu adalah satu -satunya burung yang bisa melihat warna biru.

18. Warna biru cerah pertama kali ditetapkan di Inggris pada tahun 1915.

19. Warna biru banyak digunakan di dalam kantor, karena penelitian membuktikan orang orang lebih produktif dalam ruangan berwarna biru.

20. Setelah 15 tahun permen warna warni Skittles di Amerika baru memutuskan untuk membuat permen warna biru.

21. Maksud kata kata "Feeling blue" adalah saat seseorang merasa sedih.

22. Maksud dari Frase "Once in blue moon" adalah peristiwa dari yang jarang terjadi

Lirik Lovarian Perpisahan Termanis


Bila nanti kita berpisah
Jangan kau lupakan
Kengan yang indah
Kisah kita
Jika memang kau tak tercipta
Untuk ku miliki
Cobalah mengerti
Yang terjadi
Bila mungkin memang tak bisa
Jangan pernah coba memaksa
Tuk tetap bertahan
Di tengah kepedihan
Jadikan ini
Perpisahan yang termanis
Yang indah dalam hidupmu
Sepanjang Waktu
Semua berakhir
Tanpa dendam dalam hati
Maafkan semua salahku
Yang mungkin menyakitimu
Semoga kelakkan kau temukan
Kekasih sejati
Yang kan menyayangi
Lebih dariku
Bila mungkin memang tak bisa
Menyatukan perbedaan kita
Dan tetap bertahan
Ditengah kepedihan
Jadikan ini
Perpisahan yang termanis
Yang indah dalam hidupmu
Sepanjang Waktu
Semua berakhir
Tanpa dendam dalam hati
Maafkan semua salahku
Yang mungkin menyakitimu

Bahay Narkoba bagi remaja

Pengertian dan macam-macam narkoba
Menurut WHO (1982), semua zat padat, cair maupun gas yang dimasukan kedalam tubuh yang dapat merubah fungsi dan struktur tubuh secara fisik maupun psikis tidak termasuk makanan, air dan oksigen dimana dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi tubuh normal
Disini akan kami jelaskan tentang jenis-jenis narkoba, yaitu diantaranya adalah :
  • Narkotika adalah Zat / obat yang berasal dari tanaman atau sintetis maupun semi sintetis yang dapat menurunkan kesadaran, hilangnya rasa , mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan
  • Psikotropika Zat/obat alamiah atau sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku
  • Zat adiktif adalah Bahan lain bukan narkotika atau psikotropika yang pengunaannya dapat menimbulkan ketergantungan baik psikologis atau fisik. Mis : Alkohol , rokok, cofein  
2.2. Bahaya Narkoba Bagi Remaja atau Pelajar

Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda dewasa ini kian meningkat Maraknya penyimpangan perilaku generasi muda tersebut, dapat membahayakan keberlangsungan hidup bangsa ini di kemudian hari. Karena pemuda sebagai generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa, semakin hari semakin rapuh digerogoti zat-zat adiktif penghancur syaraf. Sehingga pemuda tersebut tidak dapat berpikir jernih. Akibatnya, generasi harapan bangsa yang tangguh dan cerdas hanya akan tinggal kenangan.Sasaran dari penyebaran narkoba ini adalah kaum muda atau remaja. Kalau dirata- ratakan, usia sasaran narkoba ini adalah usia pelajar, yaitu berkisar umur 11 sampai 24 tahun. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bahaya narkoba sewaktu- waktu dapat mengincar anak didik kita kapan saja.


Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat-obatan terlarang.
Sementara nafza merupakan singkatan dari narkotika, alkohol, dan zat adiktif lainnya (obat-obat terlarang, berbahaya yang mengakibatkan seseorang mempunyai ketergantungan terhadap obat-obat tersebut). Kedua istilah tersebut sering digunakan untuk istilah yang sama, meskipun istilah nafza lebih luas lingkupnya.
Narkotika berasal dari tiga jenis tanaman, yaitu (1) candu, (2) ganja, dan (3) koka. Ketergantungan obat dapat diartikan sebagai keadaan yang mendorong seseorang untuk mengonsumsi obat-obat terlarang secara berulang-ulang atau berkesinambungan.

Apabila tidak melakukannya dia merasa ketagihan (sakau) yang mengakibatkan perasaan tidak nyaman bahkan perasaan sakit yang sangat pada tubuh (Yusuf, 2004: 34). Di Indonesia, pencandu narkoba ini perkembangannya semakin pesat. Para pencandu narkoba itu pada umumnya berusia antara 11 sampai 24 tahun. Artinya usia tersebut ialah usia produktif atau usia pelajar. 

Pada awalnya, pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenalannya dengan rokok.
Karena kebiasaan merokok ini sepertinya sudah menjadi hal yang wajar di kalangan pelajar saat ini. Dari kebiasaan inilah, pergaulan terus meningkat, apalagi ketika pelajar tersebut bergabung ke dalam lingkungan orang-orang yang sudah menjadi pencandu narkoba. Awalnya mencoba, lalu kemudian mengalami ketergantungan. Bahaya bagi pelajar
Di Indonesia, pencandu narkoba ini perkembangannya semakin pesat. Para pencandu narkoba itu pada umumnya berusia antara 11 sampai 24 tahun. Artinya usia tersebut ialah usia produktif atau usia pelajar.

Pada awalnya, pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenalannya dengan rokok.
Karena kebiasaan merokok ini sepertinya sudah menjadi hal yang wajar di kalangan pelajar saat ini. Dari kebiasaan inilah, pergaulan terus meningkat, apalagi ketika pelajar tersebut bergabung ke dalam lingkungan orang-orang yang sudah menjadi pencandu narkoba. Awalnya mencoba, lalu kemudian mengalami ketergantungan.
Dampak negatif penyalahgunaan narkoba terhadap anak atau remaja (pelajar) adalah sebagai berikut:
• Perubahan dalam sikap, perangai dan kepribadian,
• Sering membolos, menurunnya kedisiplinan dan nilai-nilai pelajaran,
• Menjadi mudah tersinggung dan cepat marah,
• Sering menguap, mengantuk, dan malas,
• Tidak memedulikan kesehatan diri,
• Suka mencuri untuk membeli narkoba
2.3. Upaya Pencegahan Menggunakan Narkoba
Upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba di kalangan pelajar, sudah seyogianya menjadi tanggung jawab kita bersama. Dalam hal ini semua pihak termasuk orang tua, guru, dan masyarakat harus turut berperan aktif dalam mewaspadai ancaman narkoba terhadap anak-anak kita.
Adapun upaya-upaya yang lebih kongkret yang dapat kita lakukan adalah melakukan kerja sama dengan pihak yang berwenang untuk melakukan penyuluhan tentang bahaya narkoba, atau mungkin mengadakan razia mendadak secara rutin.
Kemudian pendampingan dari orang tua siswa itu sendiri dengan memberikan perhatian dan kasih sayang. Pihak sekolah harus melakukan pengawasan yang ketat terhadap gerak-gerik anak didiknya, karena biasanya penyebaran (transaksi) narkoba sering terjadi di sekitar lingkungan sekolah.
Yang tak kalah penting adalah, pendidikan moral dan keagamaan harus lebih ditekankan kepada siswa.
Karena salah satu penyebab terjerumusnya anak-anak ke dalam lingkaran setan ini adalah kurangnya pendidikan moral dan keagamaan yang mereka serap, sehingga perbuatan tercela seperti ini pun, akhirnya mereka jalani.
Oleh sebab itu, mulai saat ini, kita selaku pendidik, pengajar, dan sebagai orang tua, harus sigap dan waspada, akan bahaya narkoba yang sewaktu-waktu dapat menjerat anak-anak kita sendiri. Dengan berbagai upaya tersebut di atas, mari kita jaga dan awasi anak didik kita, dari bahaya narkoba tersebut, sehingga harapan kita untuk menelurkan generasi yang cerdas dan tangguh di masa yang akan ating dapat terealisasikan dengan baik

Terlalu sadis caramu

Terlalu sadis caramu
Menjadikan diriku
Pelampiasan cintamu
Agar dia kembali padamu
Tanpa perduli sakitnya aku
Tega niannya caramu
Menyingkirkan diriku
Dari percintaan ini
Agar dia kembali padamu
Tanpa perduli sakitnya aku
Semoga Tuhan membalas semua yang terjadi
Kepadaku suatu saat nanti
Hingga kau sadari sesungguhnya yang kau punya
Hanya aku tempatmu kembali
Sebagai cintamu
Hanya aku tempatmu kembali
Semoga Tuhan membalas semua yang terjadi
Kepadaku suatu saat nanti
Hingga kau sadari sesungguhnya yang kau punya
Hanya aku tempatmu kembali
Sebagai cintamu
Hingga kau sadari sesungguhnya yang kau punya
Hanya aku ooo
Sebagai cintamu

Romantika Cinta di Pesantren

Cerpen Islami : Romantika Cinta di Pesantren
Suasana ini begitu nyaman, asri, sejuk, indah dan damai bagiku. Suasana yang tak pernah kujumpai dimana pun itu. Pesantren. Ya, itu suasana pesantren. Suasana yang sudah lama aku inginkan.
Sungguh aku tak percaya aku bisa berada disini sebagai santri. Bukan karena paksaan dari orang tua seperti kebanyakan yang terjadi. Melainkan murni karena keinginanku sendiri. Walau sempat ditentang orang tua karena beberapa alasan, hatiku tetap kekeh untuk nyantri yang insyaAlah semata-mata mengharap ridho Ilahi. Alhamdulillah.. trimakasih atas nikmat yang indah ini YaAllah..
            “Khoirunnisa?” Tanya seorang gadis cantik, berjilbab rapi yang sepertinya santri disini.
            “Iya ukhti” Jawabku dengan menganggukkan kepala.
            “Saya Lailtul Istiqomah, saya diutus Umi Sarah untuk mengantarmu bertemu beliau”
            “Umi Sarah?” Tanyaku.
            “Iya, beliau istri dari kyai dipesantren ini”
            “MasyaAllah.. maaf ukhti, saya belum tau”

Akupun mengikuti ukhti Lailatul Istiqomah.

            “Assalamu’alaikum umi ”
            “Wa’alaikumsalam. Duduk nduk ” Jawab wanita yang aku rasa ini Umi Sarah.
            “Umi, ini Khoirunnisa” Ucap ukhti Lailatul Istiqomah sambil menunjuk ke arahku. Akupun tersenyum dan segera mencium tanggan beliau yang memang benar Umi Sarah, istri dari kyai di pesantren ini.
            “Oh Khoirunnisa, MasyaAllah cantik sekali kamu nduk ”
            “Trimaksih Umi” Jawabku dengan tersenyum malu.
            “Neng Ila, neng Nisa ini biar dikamarmu saja ya nduk, dia baru pertama kali nyantri, jadi umi minta tolong bantu neng Nisa untuk mengenal pesantren ini. Dan neng Nisa, ini neng Ila. Neng Ila ini sudah cukup lama nyantri disini, jika ada sesuatu tanyakan saja.” Tutur Umi Sarah kepadaku dan Ukhti Ila.
            “Baik Umi, InsyaAllah” Jawab ukti Ila , sambil tersenyum kepadaku.
Akupun ikut membalas senyum Ukhti Ila dan Umi Sarah.

**

Cerpen Islami : Romantika Cinta di Pesantren
  “Nisa, ini kamar kita. Dikamar ini hanya kita berdua. Kamu tau kan, ini bukan pesantren besar. Dipesantren ini hanya ada 20 kamar dan setiap kamar hanya diisi dengan 5 santri saja.”
            “Lalu kenapa hanya Ukhti yang tinggal sendiri?” Tanyaku.

“Sebenarnya kamar ini khusus untuk santri senior. Dulu dikamar ini malah lebih dari 5 santri. Tapi seiringnya waktu, mereka meninggalkan pesantren ini, karena mereka harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Mereka telah menikah Nisa.” Terang ukhti Ila kepadaku.

            “Kalau ukhti, kapan nikahnya?” Candaku , sambil meletakkan pakaian ke lemari.
            “Ukhti masih sekolah Nisa. Ukhti juga masih ingin melanjutkan sekolah kelak. Ya, do’akan saja lah.” Jawab Ukhti Ila dengan senyum manisnya.

Ukhti Ila memang gadis yang baik. Dia mudah sekali untuk akrab denganku. Aku bersyukur, hari pertamaku dipesantren, aku sudah mendapatkan sahabat sekaligus sosok kakak bagiku yang sungguh baik.

Hari-hariku dipesantren terasa indah. Saat ini aku duduk di kelas 1 aliyah. Atau yang biasa dikenal dengan istilah SMA. Karena aku tergolong baru dengan ilmu-ilmu pesantren, aku cukup kesulitan dalam mempelajari kitab-kitab yang notabennya menggunakan bahasa arab.

Alhamdulillah ukhti ila selalu membantu ketika aku kesulitan dalam mempelajari sesuatu, termasuk kitab-kitab itu. Ukhti Ila saat ini duduk di kelas 3 aliyah. Dia cukup pintar di pesantren ini. Banyak prestasi-prestasi yang ia peroleh. Selain itu ukhti Ila juga baik sekali denganku. Ia yang selalu memberi semangat untukku ketika aku merasa lelah dengan kegiatan-kegiatan pesantren, ia juga yang selalu menghiburku ketika aku rindu dengan keluargaku. Sungguh ku beruntung telah mengenalnya.


**

Hari ini hari minggu. Seperti umumnya, sekolah libur. Kegiatan pesantrenpun baru dimulai sore hari. Waktu lenggang ini digunakan para santri untuk beberapa hal. Diantaranya, ada yang memanfaatkan waktu lenggang ini dengan belajar, ada yang mengaji, ada yang mencuci dan bahkan ada yang memanfaatkan waktunya untuk tidur.
            “Pakaian sudah ku cuci, belajar sudah, mengajipun sudah. Lalu aku harus apa ya?” Gumamku sambil mencari kesibukan.
Aku memang orang yang tidak bisa untuk tidak melakukan sesuatu. Karenanya aku selalu ingin mencari sesuatu untuk menyibukanku. Terlihat ukhti Ila berjalan di depan pintu. Aku berteriak memanggilnya.
            “Ukhti…. ”

Ukhti ila yang mendengar panggilanku langsung berbalik arah ke tempatku memanggil.

            “Ada apa Nisa?”
            “Ukhti mau kemana?”
            “Mau membantu Umi Sarah menyiapkan tasyakuran untuk putra bungsungnya yang baru datang dari Al-Azhar Cairo”
            “Nisa boleh ikut ndak ukhti?” Tanyaku dengan penuh harap.
            “Nisa, kamu santri baru, ndak enak kalau sudah menyuruhmu ”
            “Sudahlah ukhti. Lets go.” Langsung kutarik tangan ukhti ila untuk bergegas menuju rumah Umi Sarah yang letaknya tidak jauh dari kamar kami.
            “Assalamu’alaikum Umi”
            “Wa’alaikumsalam. Lho ada neng Nisa, ada perlu apa Neng?”  Tanya umi Sarah kepadaku.
            “Maaf Umi, Nisa yang memaksa” Jawab ukhti Ila dengan perasaan bersalahnya.
            “Nisa ingin ikut membantu umi disini, Nisa juga sedang tidak ada kesibukan umi, Nisa itu anaknya ndak bisa diam umi ”
            “Tapi Nisa……..”
            “Nisa tidak apa Umi, boleh ya..” Rayuku kepada Umi Sarah.
            “Baiklah. Ayo masuk ” Umi Sarahpun menyetujui.

Aku dan ukhti ila masuk ke dalam rumah umi sarah. Dikediaman umi sarah sudah banyak santri yang membantu. Aku mendapat tugas membuat minuman untuk semua yang membantu umi disini.

            “Neng Nisa, tolong buatkan minuman untuk semua yang disini ya nduk. Dapur umi disana ” Ucap Umi Sarah sambil menunjuk arah dapurnya.
            “Baik umi” Jawabku dengan semangat.

Sesampainya di dapur, aku langsung memasak air dan menyiapkan beberapa gelas.

            “Dimana ya?” Lirihku sambil membuka pintu-pintu lemari yang ada.
            “Cari apa ukhti?” Suara itu terdengar dari arah belakangku.

Akupun bergegas berbalik untuk melihat siapa yang menanyaiku.

            “Subhanallah… tampan sekali, siapa pemuda ini?” Gumamku dalam hati.
            “Cari apa ukhti?” Tanya pemuda itu kembali.
            “Astagfirullah… maaf, saya mencari gula dan teh” Jawabku dengan gugup
            “Oh.. itu dilemari sana” Sambil menunjuk lemari yang dimaksud.
            “Baik, terimakasih”
            “Afwan” Pemuda itu berbalik keluar meninggalkan dapur.
            “Subhanallah… sungguh indah ciptaanMU yaRobb ”

#BRAKK…… suara jendela yang tertutup keras karna dorongan angin, mengangetkanku.

            “Astagfirullah… Ampuni hamba YaAllah…” Segera kuselesaikan tugasku.
            “Umi ini minumannya ”
            “Terimakasih ya nduk. Ayo anak-anak diminum dulu” Kata umi sambil menyuruh santri yang membantu untuk beristirahat sejenak dengan meminum teh yang kubuatkan.
Selesai membantu umi Sarah, kami para santri kembali ke kamar masing-masing untuk melakukan rutinitas seperti biasa.

Rutinitas pesantren telah dimulai. Namun ada yang berbeda pada rutinitas malam ini. Ba’da isya’ yang biasa diisi dengan pengajian kitab kuning kini menjadi pengajian akbar dan acara tasyakuran untuk putra bungsu Kyai Ahmad.

Diawal sebelum acara dimulai, Kyai Ahmad memperkenalkan putranya dihadapan para santri. Aku yang pada saat itu berada di shaf putri paling depan melihat sosok yang diperkenalkan Kyai Ahmad dan teringat sesuatu.
            “Pemuda itu kan yang tadi di dapur? ” Lirihku.
            “Ukhti, pemuda itu putra Kyai Ahmad yang dari Cairo? ” Tanyaku kepada ukhti Ila yang berada di sampingku.
            “Iya Nisa. Kenapa? Tampan ya?”
            “Iiya Ukhti. Tampan sekali. Wajah teduhnya seperti memancarkan keimanan. Sungguh beruntung Kyai Ahmad dan Umi Sarah ya ukhti.” Sahutku sambil memandangi pemuda yang saat ini masih di depan mimbar dengan Kyai Ahmad.
            “Yang lebih beruntung nanti adalah istrinya Nisa. Benar katamu, dia pemuda yang berakhlak baik, dan kamu tau Nisa, dia juga Hafidz Qur’an.”
            “Subhanallah... Ukhti serius?” Tanyaku penasaran.
            “Iya Nisa. Namanya Fahri. Dia lulusan terbaik Al-Azhar. Banyak sudah yang menawarkan pekerjaan untuknya. Dan gaji yang ditawarkan tak tanggung-tanggung hingga puluhan juta per bulan. Tapi Fahri seorang yang berbeda. Dia lebih memilih meneruskan perjuangan abahnya untuk pesantren ini” Jelas ukhti Ila panjang.
            “Ukhti, Nisa rasa Nisa mencintainya ”
Mendengar pernyataanku, ukhti ila terlihat terkejut. Ia menatapku tajam.
            “Kenapa ukhti?” Tanyaku sambil menatap wajah ukhti ila yang terlihat tegang.
            “Astagfirullah.. maaf Nisa, ndak apa kok.” Jawab ukhti Ila dan langsung memalingkan wajahnya.
Entah apa yang terjadi pada saat itu. Aku juga tak tau pasti kenapa ukhti Ila terlihat seperti itu. Ketika ku tanyapun ukhti ila hanya menggeleng-gelengkan kepala. Pada saat itu aku hanya dapat berprasangka baik terhadap Allah, terhadap perasaanku dan terhadap ukhti Ila.

Semenjak itu, aku sering sekali bertanya kepada ukhti Ila mengenai mas Fahri. Karena memang Ukhti Ila mengenal mas Fahri sejak berusia 8 tahun. Ya, ukhti ila memang sudah lama nyantri disini. Itu sebabnya Ukhti Ila akrab sekali dengan keluarga Kyai Ahmad. Ukhti Ila tau betul sifat-sifat yang dimiliki Mas Fahri. Dan akupun mengetahui banyak hal mengenai mas Fahri dari ukhti Ila. Hampir setiap hari kami membicarakan mas Fahri. Semua yang diceritakan ukhti ila menambah kekagumanku terhadap mas Fahri.

Mas Fahri kini menjadi guru bahasa arab di kelasku. Sungguh ketika itu aku bahagia sekali. Aku bisa sering bertemu dengan mas Fahri. Tapi aku selalu ingat pesan ukhti Ila kepadaku, agar jangan sampai nafsu menguasai diriku, dan menjadikan cinta ini menjadi cinta yang berasal dari nafsu bukan dari Allah. Subhanaallah... ukhti ila memang gadis yang baik, pandai, bijaksana lagi.

Ternyata Mas Fahri adalah seorang yang mudah akrab dengan siapa saja, termasuk aku. Semakin lama aku semakin akrab dengan Mas Fahri. Setiap keakrabanku dengan Mas Fahri selalu kuceritakan kepada Ukhti Ila. Dan ukhti Ila selalu menjadi pendengar setiaku hampir setiap malam. Tak lupa juga ukhti ila menasehati dalam setiap langkahku. Itu yang membuatku betah bercerita lama dengan ukhti Ila. Karena ia selalu sabar mendengarkanku. Tak henti-hentinya hati ini mengucap syukur kepada Allah atas nikmat yang indah ini.

**
Cerpen Islami : Romantika Cinta di Pesantren

Tak terasa ujian kenaikan sudah dekat. Semua santri disibukkan dengan belajar, belajar dan belajar. Tak terkecuali aku dan ukhti ila. Disela-sela kami belajar, aku menanyakan sesuatu kepada ukhti Ila.
            “Ukhti, setelah lulus mau kemana? ”
            “Entahlah nis, mungkin ukhti akan meneruskan sekolah di Yogyakarta, biar ndak jauh-jauh dari rumah uhkti” Jawab Ukhti Ila.

Aku menghentikan membacaku, setelah mendengar jawaban dari ukhti Ila.
            “Berarti Ukhti akan meninggalkan pesantren ini? Ukhti akan meninggalkan Nisa? Ukhti akan meninggalkan semuanya?” Tak terasa butiran-butiran air mata ini mengalir di pipiku.
Ukhti Ila beranjak dari meja belajarnya menuju tempatku menangis, kemudian langsung memelukku erat. Ukhti Ila juga terlihat menangis saat memelukku. Isak tangispun menyerua diruangan ini.

            “Kalau ukhti meninggalkan pesantren ini, Nisa dengan siapa ukhti? Ukhti yang selalu ada buat Nisa, Ukhti yang selalu semangatin Nisa, Uhkti yang mengerti Nisa, Nisa dengan siapa Ukhti? Dengan siapa?”
            “Istigfar Nisa, Allah yang selalu ada bersama Nisa. Disini juga ada umi Sarah, mas Fahri dan santri-santri lain yang juga sayang sama Nisa sama seperti Ukhti” Jawab ukhti Ila sambil mengusap air mataku.

            “Astagfirullah, maafkan Nisa ukhti. Nisa hanya tidak ingin kehilangan sosok kakak yang seperti Ukhti”
            “ Nisa tidak akan pernah kehilangan Ukhti, jika ukhti selalu Nisa sebut dalam setiap do’a Nisa. Begitupun sebaliknya, Nisa ndak akan pernah hilang dari hati ukhti, karna insyaAllah dalam setiap do’a ukhti selalu ada nama Nisa. Kita serahkan semua pada Allah. Karena DIA’lah yang sebenarnya maha memiliki. Meliliki Nisa dan memiliki ukhti. Jadi, sudah ya nangisnya…” Ucap Ukhti Ila menenangkanku.

Akupun mulai sedikit tenang. Ukhti Ila menyuruhku segera beristirahat, karna hari memang sudah larut malam, agar ujian besok berjalan lancar. Malam ini merupakan malam yang sungguh penuh makna bagiku. Dimana indahnya keluarga sangat aku rasakan saat itu.


Ujianpun telah selesai. Kami para santri sedikit lega dengan berakhirnya ujian kenaikan kelas ini. Usaha telah kami maksimalkan, dan hanya tawwakal yang dapat kami lakukan saat ini. Memasrahkan semua hasil usaha kepada Allah Swt. Karena hanya DIA lah yang yang maha segalanya.

Detik-detik kenaikan kelas mulai terasa. Sebentar lagi hasil ujian kami akan diberikan dalam bentuk raport. Setelah raport diberikan, aku bergegas menuju kamar untuk menemui ukhti Ila.
“Assalamu’alaikum ukhti.. Alhamdulillah Nisa naik kelas, hasilnyapun lumayan bagus lho. Trimaksih ya ukhti, ukhti telah banyak membantu Nisa ”.
“Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah kalau begitu. Barakallah untuk nilai dan kenaikanmu Nisa” Jawab ukhti Ila.

Sedangkan ukhti Ila tidak perlu diragukan lagi. Ukhti Ila lulus dengan nilai terbaik.
            “Selamat ya ukhti” Ucapku dan langsung memeluk ukhti Ila.
Namun, lagi-lagi air mata ini menetes. Aku merasakan ketakutan yang amat. Entah karena apa. Apakah aku takut kehilangan ukhti Ila? Ya, aku memang takut kehilangan orang yang saat ini kupeluk. Ukhti ila yang menyadari aku menangis langsung melepaskan pelukanku.
            “Nisa kenapa nangis? ” Tanya ukhti ila sambil mengusap air mata dipipiku.
            “Ukhti tidak serius meninggalkan pesantren ini kan? Ukhti tidak akan meninggalkan Nisa kan?”

Tanpa berkata sedikpun, ukhti ila memelukku kembali.
Setelah keadaanku sedikit tenang, ukhti Ila melepas pelukannya.
“Serahkan semua pada Allah Nisa” Ucap ukhti Ila dan langsung berjalan keluar meninggalkanku.

Aku tau ukhti Ila juga sedih. Mungkin ukhti Ila tidak ingin menunjukkannya kepadaku, ukhti Ila tidak ingin menambah kesedihannku. Aku faham itu, karna setahun dipesantren ini cukup buatku mengenal Ukhti Ila.
**


Sungguh ku tak ingin melewati malam ini. Malam yang tak pernah kuharapkan sama sekali. Jika aku bisa berharap, aku akan berharap agar tidak adanya malam ini. Karena mungkin malam ini adalah malam terakhirku dengan ukhti ila. Dan aku tak mau itu. Sungguh aku tak mau yaAllah.

            “Kenapa sepi ya? Nisa ndak ingin cerita ni sama Ukhti?” Tanya ukhti ila memecah keheninggan kamar, sambil memindahkan barang-barangnya ke tas yang akan ia bawa pulang esok.

            “Ndak mau! Nisa ingin istirahat saja.” Jawabku dengan nada sedikit marah.
“Ya sudah, selamat tidur adikku. Jangan lupa berdo’a dulu” Kalimat yang hampir setiap malam ukhti ila tuturkan kepadaku.



Malam ini sulit untukku memejamkan mata. Saat kulihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul 02.30.



#KREKK…. Suara pintu terbuka.

Segera ku tutup mataku kembali, dan berpura-pura tidur. Aku tau itu Ukhti Ila, karena Ukhti ila memang rajin sekali untuk sholat malam